Sebagai seorang muslim dan mukmin bukan merupakan suatu hal yang asing untuk kita mendengar kata “Tawakkal”.

Bagikan Artikel Ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Sebagai seorang muslim dan mukmin bukan merupakan suatu hal yang asing untuk kita mendengar kata “Tawakkal”. Banyak yang salah mengartikan bahwa, tawakkal adalah perilaku yang hanya pasrah dan menyerahkan diri kepada Allah SWT. (Dalam segala sisi dengan dalih bahwa, takdir sudah ditentukan, rezeki sudah dituliskan, dan lain sebagainya). Perspektif dan cara pandang yang salah.

Pada hakikatnya, tawakkal menurut Ibnu Rajab r.a. dala Jami’ul Ulum wal Hikam mengatakan bahwa. Tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah SWT meraih berbagai kemaslahatan, dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa. Tidak ada yang memberi menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata.

Ibnu Rajab juga mengatakan bahwa, menjalankan tawakkal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah sendiri telah memerintahkan manusia untuk selalu berusaha dan meninggalkan kemalasan dan keputus asaan. Barang siapa mencela sebuah usaha maka dia telah mencela ketentuan yang Allah tetapkan.

Ada sebuah kisah dari Imam Ahmad, beliau pernah bertanya kepada seseorang yg hanya duduk berpangku tangan di rumah/ di masjid. Pria itu mengatakan, “aku tidak mengerjakan sesuatupun rezekiku akan datang kepadaku”. Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini adalah orang yang tidak berilmu (bodoh)”. Mendasari apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad, adalah hadits Rasulullah SAW beliau bersabda. “Allah menjadikan rezekiku dibawah bayangan tombakku”. Yang artinya rezeki akan datang ketika seseorang berusaha, sebaliknya rezeki tidak akan datang tatkala seseorang tak mau berusaha.
Tawakkal & usaha merupakan sebuah satu kesatuan yang tidak boleh terlepas satu dengan yang lainnya, dua hal yang harus selalu berkolaborasi. Sebuah usaha tanpa tawakkal merupakan sebuah kesombongan yang nyata bagi seorang hamba. Dan sebuah ketawakkalan tanpa usaha yang dilakukan berupakan sebuah kebohongan dan kekosongan yang dilakukan oleh seorang hamba. Wallau a’lam bishowab…

Pun juga begitu, ketika usaha seseorang telah dilakukan dan terpenuhi maka tawakkal adalah langkah terakhir dalam suatu pekerjaan. Mencari rezeki harus dengan usaha, hasilnya ditawakkalkan kepada Allah. Mencari ilmu dengan usaha sedang hasilnya kita titipkan dan pasrahkan kepada Allah SWT.

Text by : Akhlis Azzamudin Tiffani

Baca Juga

silaturahmi keluarga barko
Sejarah
Ihsan Fauzi

Silaturahmi Keluarga Barko 1 dekade

Pada tanggal 5 syawwal 1442 / 17 Mei 2021 segenap keluarga besar Barko (Alumni Gontor tahun 2011, konsulat ponorogo) mengadakan silaturahmi di kediaman al- ustadz Akhlis Azzamuddin Tifani, acara dihadiri seluruh anggota yang sedang berada di ponorogo, silaturahmi rutin tahunan ini diharapakan akan terus menjadi adat yang akan selalu diadakan hingga anak cucu nanti.

Read More »

Mau Usahamu berkembang cepat?

Bikin semua media promosimu di barko publishing

Barko Blog