7 Perawi Hadis dan Fungsi Hadis Nabi terhadap Al-Qur’an

7 perawi dan fungsi hadis nabi terhadap al-quran
Tidak sekalipun yang diucapkan oleh Rasulullah keluar dari hawa nafsunya, kecuali Allah wahyukan kepada Rasulullah dan apa yang diucapkannya pastilah sebuah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedudukan inilah yang menjadikan Rasulullah sebagai yang terpantas setelah Allah untuk menjelaskan Al-Quran. Adakalanya Rasul merinci apa yang disebut oleh Al-Quran secara Global, adakalanya pula Rasulullah membatasi sesuatu hukum yang disebut Al-Quran terlalu luas, dan adakalanya Rasulullah Menekankan kembali tentang hukum yang ada pada Al-Quran. lalu apa Fungsi Hadis Nabi terhadap Al-Qur'an

Bagikan Artikel Ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tidak sekalipun yang diucapkan oleh Rasulullah keluar dari hawa nafsunya, kecuali Allah wahyukan kepada Rasulullah dan apa yang diucapkannya pastilah sebuah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedudukan inilah yang menjadikan Rasulullah sebagai yang terpantas setelah Allah untuk menjelaskan Al-Quran.

Adakalanya Rasul merinci apa yang disebut oleh Al-Quran secara Global, adakalanya pula Rasulullah membatasi sesuatu hukum yang disebut Al-Quran terlalu luas, dan adakalanya Rasulullah Menekankan kembali tentang hukum yang ada pada Al-Quran.

menurut kbbi hadis adalah sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk menjelaskan dan menetapkan hukum Islam; sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an;

banyak sekali buku-buku yang mempelajari tentang hadis, seperti buku mustholahul hadis, syarh hadis arbain dan lain sebagainya hal ini karena hadis rasulullah berasal dari rasulullah sendiri kemudian di riwayat kan oleh sahabat beliau dan itu tidak hanya satu, yang terkenal adalah 7 perawi hadis yaitu:

7 PERAWI HADIS

1. IMAM BUKHARI (194-256 H/ 773-835 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al Bukhari bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah. Beliau dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan setelah Shalat Jumat, pada tanggal 13 Syawal 194 H/810 M. Muhadditsin ini sangat wara’, banyak membaca Al Qur’an siang malam serta, gemar berbuat kebajikan.

Sejak umur 10 tahun, dia sudah mempunyai hafalan hadis yang tidak sedikit jumlahnya. Beliau telah menulis Kitab Hadis yang memuat 600.000 hadis kemudian beliau pilih lagi menjadi 100.000 hadis shahih dan 1000 hadis TIDAK shahih.

Shahih al-Bukhari adalah karya utama Imam Bukhari. Judul lengkap buku beliau ini adalah Al-Jami’ ash-Shahih al- Musnad al-Mukhtashar min Umūri Rasūlillah Shallallahu ’alayhi wa Sallam wa Ayyamihi (Jami’us Shahih), yakni kumpulan hadits-hadits shahih.

Beliau menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk menyusun bukunya ini. Beliau memperoleh hadits dari beberapa hafizh, antara lain Maky bin Ibrahim, Abdullah bin Usman Al Marwazy, Abdullah bin Musa Al Abbasy, Abu Ashim As

2. IMAM MUSLIM (204-261 H/ 783-840 M)

Beliau mempunyai nama lengkap Abul Husain Muslim bin Al Hajaj Al Qusyairy. Beliau dilahirkan di Nisabur, Iran tahun 204 H/820 M. Dia adalah muhadditsin dan hafidz yang terpercaya.

Dia pergi ke berbagai kota untuk berguru hadits kepada Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Mahran, Abu Hasan, Ibnu Hanbal, Abdullah bin Maslamah, Yazid bin Mansur dan Abu Mas’ad, Amir bin Sawad, Harmalah bin Yahya, Qatadah bin Sa’id, Al Qa’naby, Ismail bin Abi Uwais, Muhammad bin Al Mutsanna, Muhammad bin Rumhi dan lain-lain.

Dalam bidang hadits, beliau memiliki karya Jami’ush Shahih. Jumhur ulama mengakui kitab Shahih Muslim adalah secermat-cermat isnadnya dan sekurang-kurang perulangannya

3. IMAM ABU DAWUD (202-275 H/ 817-889 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin Al Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amr bin Amran Al Azdi As Sijistani. Ia dilahirkan di Sijistan (antara Iran dan Afganistan) pada 202 H/817 M. Ia seorang ulama, hafizh (penghafal Al Qur’an) dan ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan tentang ke-Islaman khususnya dalam bidang ilmu fiqih dan hadis. Dia berguru kepada para pakar hadis, seperti: Ibnu Amr Ad Darir, Qa’nabi, Abi Al Walid At Tayalisi, Sulaiman bin Harb, Imam Hambali, Yahya bin Ma’in, Qutaibah bin Sa’id, Utsman bin Abi Syaibah, Abdullah bin Maslamah, Musaddad bin Marjuq, Abdullah bin Muhammad An Nafili, Muhammad bin Basyar, Zuhair bin Harb, Ubaidillah bin Umar bin Maisarah, Abu bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Mutsanna, dan Muhammad bin Al Ala.

Abu Dawud menghasilkan sebuah karya terbaiknya yaitu Kitab Sunan Abi Dawud. Kitab ini dinilai sebagai kitab standar peringkat 2 (kedua) dalam bidang hadits setelah kitab standar peringkat pertama yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam kitabnya tersebut Abu Dawud mengumpulkan 4.800 buah hadits dari 500.000 hadits yang ia catat dan hafal. Karangan Abu Dawud yang berjumlah 20 judul dan tidak kurang dari 13 judul kitab telah mengulas karya tersebut dalam bentuk syarh (komentar), mukhtasar (ringkasan), tahzib (revisi) dll.

4. IMAM AT-TIRMIDZI (209-279 H/ 824-892 M)

Beliau mempunyai nama lengkap Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at Tirmidzi bin Musa bin Dahhak As Sulami Al Buqi. Ia lahir di Termez, Tadzikistan pada bulan Dzulhijah 209 H/824 M. Ia merupakan ilmuwan Islam, pengumpul hadits kanonik (standar buku). Abu Ya’la Al Khalili, seorang ahli hadits menyatakan bahwa At Tirmidzi adalah seorang Siqah (terpercaya) dan hal ini disepakati oleh para ulama. Ibnu Hibban Al Busti (ahli hadits) mengakui kemampuan At Tirmdzi dalam hal menghafal, menghimpun dan menyusun hadits.

At Tirmidzi adalah seorang murid dari Imam Bukhari dan beberapa guru lainnya seperti: Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Musa. Kitab beliau yang terkenal, Jami’ at-Tirmidzi menyebutkan seputar permasalahan fiqh dengan penjelasan yang terperinci.

Beliau juga memiliki kitab Ilalul Hadits. Pada usia 70 tahun, ia meninggal di tempat kelahirannya Termez pada akhir Rajab tahun 279 H/892 M.

5. IMAM AN-NASA’I (215-303 H/ 830-915 M)

An-Nasa’i memiliki nama lengkap Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i bin Ali bin Bahr bin Sinan. Sedangkan nama panggilannya adalah Abu Abdul Rahman An-Nasa’i. Beliau lahir di Nasa’, Khurasan 215 H/830 M. Seorang ahli hadits ini memilih Mesir sebagai tempat menyiarkan hadits-hadits. Beliau mempunyai keahlian dalam bidang hadits dan ahli fiqih dalam mazhab Syafi’i. Di kota Damaskus ia menulis kitab Khasais Ali ibn Abi Thalib (Keistimewaan Ali bin Abi Thalib)

6. IMAM IBNU MAJAH (209-273 H/ 824-887 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qadziani Ar Raba’i Al Qazwani. Beliau lahir di Qazwin, Iran 209 H/824 M. Majah adalah nama gelar (Laqab) bagi Yazid, ayahnya yang dikenal juga dengan nama Majah Maula Rab’at. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Majah adalah kakeknya Ibnu Majah. Ibnu Majah memiliki keahlian dalam bidang hadits, ahli tafsir dan ahli sejarah Islam. Ada 2 (dua) keahliannya dalam bidang tafsir yaitu tafsir Al Qur’an Al Karim dan At Tarikh.

Pada usia 21 tahun dia mulai mengadakan perjalanan untuk mengumpulkan hadits. Dengan cara tersebut dia telah mendapatkan hadits-hadits dari para ulama terkenal yang mana juga sebagai gurunya seperti Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numaayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Al Azhar, Basyar bin Adam serta para pengikut Imam Malik dan Al Layss.

Karya utama Ibnu majah dalam bidang hadits adalah Sunan Ibnu Majah yang dikenal sebagai salah satu dari enam kitab kumpulan hadits yang terkenal dengan julukan Al Kutub As Sittah (kitab yang enam). Lima kitab hadits yang lain dari kumpulan tersebut adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi dan Sunan An Nasa’i (disebut dengan Sunan, karena kitab ini mengandung ahadits yang menyinggung masalah duniawi/mu’amalah).

Ibnu Majah wafat di tempat kelahirannya Qazwin hari Selasa, tanggal 20 Ramadhan 273 H/18 Pebruari 887 M dalam usia 64 tahun.

7. IMAM AHMAD (164-241 H/ 780-855 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah bin Muhammad bin Hanbal Al Marwazy. Dia adalah ulama hadits terkenal kelahiran Baghdad. Dia dilahirkan pada bulan Rabiul Awal, tahun 164 H/780 M. Beliau terkenal sebagai salah seorang pendiri madzhab yang dikenal dengan nama Hanabilah (Hanbaly). Beliau mulai mencari hadits sejak berumur 16 tahun hingga merantau ke kota-kota di Timur Tengah. Dari perantauan inilah, beliau mendapatkan guru-guru kenamaan, antara lain: Sufyan bin ‘Uyainah, Ibrahim bin Sa’ad, Yahya bin Qaththan. Dan beliau adalah salah seorang murid Imam As Syafi’i yang paling setia.

Dia merupakan seorang ahli hadits yang diakui kewara’an dan kezuhudannya. Menurut Abu Zur’ah, beliau mempunyai tulisan sebanyak 12 macam yang dikuasai di luar kepala. Beliau juga mempunyai hafalan matan hadits sebanyak 1.000.000 buah. Karya beliau yang sangat gemilang adalah Musnadul Kabir. Kitab ini berisikan 40.000 buah hadits yang 10.000 di antaranya merupakan hadits ulangan. Karya beliau yang paling utama adalah Musnad Ahmad yang tersusun dari 30.000 ahadits dalam 24 juz.

Beliau pulang ke rahmatullah pada hari Jumat Rabiul Awal, 241 H/855 M di Baghdad dan dikebumikan di Marwaz yang mana jenazahnya diantar oleh 800.000 orang laki-laki dan 60.000 orang perempuan.

Fungsi Hadist Nabi terhadap Al-Qur’an

Bayan Al-mujmal

Bayan Al-mujmal artinya menjelaskan ayat Al-Quran yang masih umum (Global), sseperti yang kita ketahui isi dari al-quran sangatlah umum, dan hadist ini berperan sebagai perantara untuk menjelaskan yang dimaskud di dalam al-quran yang bersifat umum tadi.

Salah satu fungsi hadits Rasulullah adalah menjelaskan apa yang disampaikan oleh Al-Quran secara umum atau belum jelas detail dan tatacaranya. Contoh, ayat tentang perintah melaksanakan sholat, setidaknya ada 67 ayat yang memerintahkan sholat tetapi tidak disertai bagaimana tatacara, waktu, jumlah rakaat, ada berapa kali dalam satu hari shalat dilakukan, maka Rasulullah datang menjelaskan dari ayat yang masih minim penjelasannya. dan beliau bersabda :

صلوا كما رأيتموني أصلي

Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihatku sholat

Ta’kid Al-Hukm

Hadits yang disampaikan Rasulullah juga berfungsi sebagai penguat hukum yang tertulis dalam Al-Quran. Contohnya tentang perintah bersuci sebelum melakukan sholat dengan berwudhu. Atau jika dalam keadaan sulitidak menemukan air maka boleh diganti dengan bertayamum menggunakan debu yang suci. (Al-Maidah : 6) Disaat yang sama, Rasulullah juga bersabda tentang perintah berwudhu untuk tiap kali melakukan shalatdengan kalimat: Tidak diterima sholat orang yang berhadast sampai ia berwudhu (HR: Bukhari dan Abu Hurairah)

Takhshis Al-Aam

Fungsi berikutnya adalah sebagai yang mengkhususkan ayat Al-Quran hanya menjelaskan secara terbatas tanpa ada keterangan yang lebih spesifik. Contohnya perintah tentang potong tangan sebagai hukuman orang yang mencuri, dalam Al-Quran tidak disebutkan batasan panjang tangan yang dipotong, kanan atau kiri, apakah setiap pencurian langsung potong tangan, penyebab kenapa dia mencuri. ini semua tidak dijelaskan dalam Al-Quran. Kemudian Rasulullah menjelaskan tentang ayat ini secara detail dan jelas bagaimana hukum dan penerapannya dalam Islam

Demikian sedikit penjelasan tentang 7 perawi hadits dan fungsi hadits terhadap Alquran, semoga dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua, Aamiin ya rabbal ‘aalamin

Baca Juga: 6 Sikap Orang Tua Yang Disukai Anak

sumber: El-Maslak Media

Baca Juga

silaturahmi keluarga barko
Sejarah
Ihsan Fauzi

Silaturahmi Keluarga Barko 1 dekade

Pada tanggal 5 syawwal 1442 / 17 Mei 2021 segenap keluarga besar Barko (Alumni Gontor tahun 2011, konsulat ponorogo) mengadakan silaturahmi di kediaman al- ustadz Akhlis Azzamuddin Tifani, acara dihadiri seluruh anggota yang sedang berada di ponorogo, silaturahmi rutin tahunan ini diharapakan akan terus menjadi adat yang akan selalu diadakan hingga anak cucu nanti.

Read More »

Mau Usahamu berkembang cepat?

Bikin semua media promosimu di barko publishing

Barko Blog