5 Cara Mendidik Anak Ala Al-Qur’an

Cara Mendidik Anak
Mendidik Anak ala Qur'an yang shaleh, cerdas dan kompeten adalah dambaan setiap pasangan suami istri, terlebih dia memiliki prestasi yang banyak sekali

Bagikan Artikel Ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Anak yang shaleh, cerdas dan kompeten adalah dambaan setiap pasangan suami istri, terlebih dia memiliki prestasi yang banyak sekali. Nah, bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak shaleh, cerdas dan memiliki kompetensi diri seperti yang di dambakan oleh orang tuanya, berikut sedikit refleksi dari Surat Ali Imron tentang metode mendidik anak sejak dini.

1. Mendidik Sejak Dalam Kandungan

Pertama, perjalanan seorang anak dimulai dari dalam kandungan, maka ketika janin sudah ada di dalam kandungan mulailah berdo’a agar kelak janin tersebut menjadi anak yang shaleh, cerdas, dan kompeten. Seperti yang dicontohkan oleh Hannan istri Imran di dalam surat Ali Imran: 35:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

2. Memberi Nama Sesuai Harapan Orangtua

Kedua, setelah anak tersebut lahir ke dunia, maka kewajiban orang tua adalah memberikan nama yang terbaik sesuai dengan harapan dan cita-cita orang tua kepada anaknya. Seperti: orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang penghafal (hafidz) al-Qur’an, maka diberi nama Muhammad Al-Hafidz, orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang cerdas, maka diberi nama Muhammad Zaky, dll. Seperti di sebutkan di dalam al-Qur’an surat Ali Imran: 36:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

3. Mencari Guru Terbaik Untuk Masa Depannya

Ketiga, kewajiban orang tua berikutnya adalah mencari guru terbaik untuk mewujudkan cita-citanya. Di dalam Surat Ali Imran: 37, disebutkan bahwasanya Zakariya lah yang menjadi guru terbaik bagi Maryam.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”

4. Mencari Tempat Terbaik untuk Mewujudkan Cita-Citanya

Keempat, carilah tempat yang terbaik untuk mewujudkan cita-citanya, seperti yang dilakukan oleh Hannan adalah membuat mihrab (tempat berdo’a) di dalam rumahnya. Di dalam mihrab itu maryam selalu berdo’a agar menjadi anak shaleh, sesuai dengan yang di cita-citakan orang tuanya.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”

5. Memberi Fasilitas untuk Mewujudkan Cita-Citanya

Kelima, berilah perangkat-perangkat atau fasilitas pendukung untuk mewujudkan cita-citanya. Seperti: jika orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang penghafal al-Qur’an, maka sediakan speaker aktif dan diputar setiap hari 24 jam agar anak selalu mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an dan otaknya merekam lantunan ayat-ayat tersebut. Jika orang tua menginginkan anak tersebut menjadi ahlul Hadis, maka belilah buku-buku Hadis dan bacakanlah kepada anaknya, dengan begitu anak akan sering mendengar dan merekam Hadis.

Dengan begitu, dengan izin Allah anak-anak tersebut akan menjadi anak-anak yang shaleh, cerdas dan kompeten, sesuai dengan cita-cita orang tuanya.

Amin, wallahu a’lam bis showab.

Baca Juga: Konco Kenthel

Text by: Abdul Khair

Baca Juga

silaturahmi keluarga barko
Sejarah
Ihsan Fauzi

Silaturahmi Keluarga Barko 1 dekade

Pada tanggal 5 syawwal 1442 / 17 Mei 2021 segenap keluarga besar Barko (Alumni Gontor tahun 2011, konsulat ponorogo) mengadakan silaturahmi di kediaman al- ustadz Akhlis Azzamuddin Tifani, acara dihadiri seluruh anggota yang sedang berada di ponorogo, silaturahmi rutin tahunan ini diharapakan akan terus menjadi adat yang akan selalu diadakan hingga anak cucu nanti.

Read More »

Mau Usahamu berkembang cepat?

Bikin semua media promosimu di barko publishing

Barko Blog