Bukankah Aku Ini Tuhanmu? (Refleksi Surat Al-A’raf: 172)

Bukankah Aku Ini Tuhanmu
(Dan) ingatlah (ketika) sewaktu (Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) menjadi badal isytimal dari lafal sebelumnya dengan mengulangi huruf jar (yaitu anak cucu mereka). Bukankah Aku Ini Tuhanmu? (Refleksi Surat Al-A’raf: 172)

Bagikan Artikel Ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Dalam Tafsir Jalalayn dijelaskan:

(Dan) ingatlah (ketika) sewaktu (Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka) menjadi badal isytimal dari lafal sebelumnya dengan mengulangi huruf jar (yaitu anak cucu mereka) maksudnya Dia mengeluarkan sebagian mereka dari tulang sulbi sebagian lainnya yang berasal dari sulbi Nabi Adam secara turun-temurun, sebagaimana sekarang mereka beranak-pinak mirip dengan jagung di daerah Nu’man sewaktu hari Arafah/musim jagung. Allah menetapkan kepada mereka bukti-bukti yang menunjukkan ketuhanan-Nya serta Dia memberinya akal (dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka) seraya berfirman, (“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul.) Engkau adalah Tuhan kami (kami menjadi saksi.”) yang demikian itu. Kesaksian itu supaya (tidak) jangan (kamu mengatakan) dengan memakai ya dan ta pada dua tempat, yakni orang-orang kafir (di hari kiamat kelak, “Sesungguhnya kami terhadap hal-hal ini) yakni keesaan Tuhan (adalah orang-orang yang lalai.”) kami tidak mengetahuinya.

Pada ayat di atas kita menemukan bahwasanya dahulu kala sebelum manusia dilahirkan ke dunia, sesungguhnya mereka telah berjanji akan bersaksi atas keesaan Allah SWT. Akan tetapi setelah lahir ke dunia, manusia seakan – akan lupa akan jati dirinya, awalnya mengakui keesaan Allah SWT lambat laun terciderai oleh kehidupan duniawi: tahta, harta, wanita, dan lain – lain.

Pertama

Pertama, ketika manusia berjuang memperebutkan tahta atau jabatan, mereka melupakan janjinya di hadapan Tuhannya, mereka lebih mementingkan jabatan duniawi daripada urusan ukhrawi. Seakan mampu dan pasti akan bisa berbuat semaunya sendiri tanpa bantuan dari Allah SWT. Padahal itu sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi.

Kedua

Kedua, hal yang merusak hubungan antara manusia dengan Tuhannya adalah urusan harta, mayoritas manusia lebih memilih berdagang atau bekerja tanpa melibatkan Allah di dalamnya, daripada berdagang dengan Allah, seakan mereka sanggup untuk mendapatkan hartanya sesuai dengan kehendaknya sendiri tanpa campur tangan Allah SWT. Padahal berdagang atau bekerja yang tidak pernah merugi adalah berdagang dengan Allah atau bekerja untuk Allah. Akan tetapi mereka melupakan janji mereka dulu bahwa mempersaksikan keesaan Allah SWT.

Ketiga

Ketiga, ketika mereka memperebutkan wanita dan menjadikan wanita sebagai salah satu kesenangan duniawinya, maka mereka melupakan bahwa hanya Allah yang dapat menjadikan kesenangan atau kesedihan. Namun mereka lupa akan hal itu dan melalaikan urusan akhirat.

Maka, ketika manusia lebih mementingkan urusan dunia dari pada akhirat, Allah hadir dan bertanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, kemudian mereka menjawab, “Iya, anda adalah Tuhan kami”. Lantas kenapa kita masih lebih mementingkan urusan dunia dari pada urusan akhirat, lantas kenapa masih menuhankan tahta, harta dan wanita, padahal sudah jelas bahwasanya Tuhannya adalah Allah SWT. Maka dari itu mari kita kembali merenungi ayat – ayat di atas dan semaksimal mungkin selalu mengingat dan menjalankannya sesuai kadar kita masing-masing.

Terakhir, penulis akan menutup artikel ini dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah: 40 dan surat at-Taubah: 111, yang berbunyi:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“dan penuhilah janjimu kepadaKu, niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu, dan hanya kepadaKu lah kamu harus takut (tunduk).”

وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ، فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ، وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Wallahu a’lam bis shawab

Baca Juga: 5 Cara Mendidik Anak Ala Al-Quran

Text by: Abdul Khair

Baca Juga

silaturahmi keluarga barko
Sejarah
Ihsan Fauzi

Silaturahmi Keluarga Barko 1 dekade

Pada tanggal 5 syawwal 1442 / 17 Mei 2021 segenap keluarga besar Barko (Alumni Gontor tahun 2011, konsulat ponorogo) mengadakan silaturahmi di kediaman al- ustadz Akhlis Azzamuddin Tifani, acara dihadiri seluruh anggota yang sedang berada di ponorogo, silaturahmi rutin tahunan ini diharapakan akan terus menjadi adat yang akan selalu diadakan hingga anak cucu nanti.

Read More »

Mau Usahamu berkembang cepat?

Bikin semua media promosimu di barko publishing

Barko Blog